Minggu, 25 Maret 2012

Zul

Seorang perempuan muda yang berumur 1 tahun lebih tua dari aku, kami memanggilnya Zul. Dia bekerja membantu keluargaku di dapur dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Kami tidak pernah menganggap dia sebagai orang asing di rumah kami. Dia pertama kali datang diantar oleh tanteku, kk mami yang paling sulung, katanya salh seorang mantan muridnya, karena tanteku memang seorang guru di smp yang jaraknya cukup jauh dari kota kami. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Namun karena Zul dari kecil dirawat oleh neneknya jadi dia tidak mengenyam pendidikan sampai ke tingkat SMA. Waktu dia datang, dia cukup pendiam. Keliatannya sih rajin, papi dan mami senang dengan pekerjaannya. Salah satu tradisi di keluarga kami yang cukup membuat saya bangga adalah kami tidak pernah memakai istilah pembantu di rumah, bahkan mereka diperlakukan seperti layaknya saudara kandung. Jika ada tamu kami yang memanggilnya pembantu papi selalu membela dan bilang kalau Zul bukan Cuma pekerja di rumah kami tetapi saudara kami juga. Semua pekerja di rumah juga diperlakukan sama.
                Satu hal yang tidak akan aku lupa dari Zul adalah ketika aku mudik liburan beberapa tahun lalu, waktu itu liburku Cuma 10 hari jaadi sangat singkat untuk bisaa menikmati waktu bersama keluarga. Hari-hari libur kulalui dengan mengunjungi saudara dan teman-teman lama. Sore hari biasanya aku isi dengan berolahraga basket, dan pulang dengan baju keringatan. Tentunya aku member pekerjaan banyak buat Zul. Terkadang dia , mengomel. Dis, cucian kamu paling banyak di rumah ini, cuci sendiri. Aku Cuma bisa senyum lebar dan nyengir karena aku tau itu Cuma marah bohongan.
Pagi-pagi kadang aku malas untuk ke dapur sarapan, cukup telepon dia aja sarapan diantar ke kamar. Jika selesai berolahraga dan badanku pegal, dia memijatku. Zul memang rajin sekali, itu membuat keluarga kami menyayangi dia.
Sewaktu liburan sudah hampir berakhir saatnya untuk berkemas barang dan kembali ke Jakarta. Mami memanggilku dan memberikan uang yang sangat banyak, nenek juga datang dan memberikan uang saku. Aku tersenyum dengan penuh haru menerima banyak angpao Liburan. Asyik…Mereka semua memelukku bergantian dan memberi pesan untuk rajin belajar dan jaga kesehatan. Ketika semua keluarga berkumpul di ruang tengah untuk ngobrol dan menunggu Bus, Zul tiba-tiba memanggil dan menyuruh ikut dia ke kamar belakang, kemudian mengambil telapak tanganku kemudian memasukkan selembar 50ribuan,sambil mata berair dia bilang. Dik, ini sekedar buat beli minuman di jalan. Jangan lihat nilainya. Itu uang terakhir dari gajiku bulan ini, belajar yang rajin dan jangan kecewakan papai sama mami. Akhir mataku seketika jatuh, padahal aku seorang laki-laki. Aku sangat terharu, kemudian aku memeluk dia, dan Cuma bilang terima kasih, kamu memang kakakku yang baik.
                Hari itu banyak keluargaku, papi, mami, tante, nenek, om yang memberiku uang saku, tetapi pemberiannya yang paling aku ingat bukan karena jumlahnya tetapi nilai kasih yang diberikan oleh seorang yang bukan keluarga kami, bahkan harusnya aku yang memberi dia uang, malahan sebaliknya dia yang memberi uang terakhir miliknya. Zul, seorang kakak untukku, orang yang kalian sebut pembantu.